|
Harian Los Angeles Times yang terbit di Los Angeles, AS, pasti tidak akan lupa pada tanggal ini: Senin 31 Maret 2003. Seperti juga hampir semua koran di dunia, Los Angeles Times (LA Times) hari itu menempatkan berita tentang Perang Irak di halaman pertamanya. Tak lupa, foto yang menyertainya dipasang besar-besar, enam kolom atau lebarnya sekitar 30 centimeter. Ini adalah sebuah foto yang sangat besar untuk ukuran surat kabar. Ukuran foto yang sangat besar, apalagi di halaman pertama sebuah surat kabar harian, biasanya diberikan kepada foto yang dianggap sangat hebat. Pnegertian hebat ini bisa muncul dari bnayak pertimbangan: peristiwa yang menjadi latar belakangnya, adegannya, atau kedua-duanya.
Untuk kasus foto utama edisi 31 Maret 2003 itu, mungkin siapapun sepakan bahwa foto itu hebat pada kedua kategori yang menjadi latar belakangnya (foto 1). Foto itu jelas mempunyai latar belakang kuat, yaitu Perang Teluk II yang sedang menjadi kontroversi di mana-mana. Sedangkan untuk adengannya, tidak diragukan lagi. Seorang Marinir Inggris sedang mengatur beberapa warga sipil Irak yang tampaknya sedang mengungsi. Pose sang marinir sangat fotogenik. Tegas dan berwibawa. Sementara para pengungsi pun tampil "meyakinkan" dengan adanya pusat perhatian pada seorang bapak yang penggendong anaknya. Pada malam sebelum koran itu terbit, redaktur foto LA Times, Colin Crawford cukup pusing memilih satu diantara sekitar 500 foto yang dimilikinya tentang Perang Irak hari itu. Akhirnya, sebuah foto kiriman fotografer mereka sendiri, Brian Walski, yang terpilih. Hari Minggu 30 Maret itu Walski yang berumur 25 tahun ini mengirimkan 13 buah foto liputannya, dan memang cuma satu yang terpilih untuk halaman depan LA Times keesokan harinya. Pendeknya, foto itu sempurna ! Tapi tidaklah demikian halnya di mata orang yang teliti. Salah seorang pembaca melihat kejanggalan pada foto karya Walski itu. Pada foto itu sang karyawan melihat ada lebih dari satu orang yang muncul dua kali. Pada orang yang tampak muncul dua kali, mungkin bisa jadi ada dua orang mirip. Tapi lipatan celana yang persis sama pada dua orang yang berbeda sungguh tidak mungkin terjadi. Perhatikan ada dua celana dengan lipatan persis di dekat kaki marinir Inggris itu. 
Waktu "kecurigaan" ini disampaikan kepada Colin Crawford, sang redaktur terkejut setengah mati sampai dia berteriak, "Tidak Mungkin!!" Crawford membutuhkan waktu cukup lama, - termasuk membesarkan foto itu dengan software Photoshop sebesar 600 persen - , sampai ia yakin bahwa salah satu fotografernya yang telah bekerja sejak 1998 ini berbuat "sesuatu". Walski lalu dikotaknya lewat telepon satelit. Dan baru menjelang deadline terbitan LA Times 1 April keduanya bisa kontak saat Walski sedang berada di Irak bagian selatan. Tanpa berbelit-belit, Walski mengaku telah menggabungkan dua buah foto untuk mendapatkan foto itu. Foto 2 diambil sisi kirinya sementara foto 3 diambil sisi kanannya. 
Demi Komposisi "Saya lakukan semata untuk keindahan komposisi", kata Walski seakan minta pengertian. Namun ucapannya itu sama sekali tidak mengurangi kemarahan pada diri Crawford bossnya itu. Demikianlah, tanpa proses yang berbelit pula Crawford langsung memecat Walski. Dan pada edisi 1 April, LA Times meminta maaf kepada pembacanya sambil memuat tiga foto yang menghebohkan itu. Satu yang hasil rekayasa dan dua lagi foto aslinya. Kasus Walski ini bisa berdimensi banyak. Di satu sisi, kita disentakkan dengan kenyataan bahwa sebuah foto bisa tidak jujur. Teknologi digital membuat banyak hal menjadi mudah, termasuk Walski yang bisa melakukan manipulasi itu di tengah gurun pasir Irak hanya dengan "senjata" komputer notebook. Kalau dipikir secara sederhana, foto Walski yang dimanipulasi itu sama sekali tidak mengubah fakta apapun. Kejadiannya memang ada. Semua "tokoh" pada foto adalah nyata adanya. Hanya kecerobohanlah yang membuat semua jadi berantakan. Kalau saja manipulasi Walski dilakukan dengan lebih hati-hati, mungkin sampai kapan pun kecurangan ini tidak akan terbongkar karena memang foto digital tidak mempunyai negatif film untuk sebuah pembuktian. Namun, memang di sinilah masalah utama foto jurnalistik mengemuka: kejujuran seorang fotografer. Dalam dunia foto jurnalistik, foto tidak boleh dimanipulasi sesedikit apapun. Kalau yang sedikit dibolehkan, nanti yang banyak pun akhirnya dibolehkan. Tolak ukur banyak dan sedikit itu sangatlah relatif. Singkatnya, rekayasa diharamkan dalam foto jurnalistik. Sampai saat ini belum ada sebuah alat yang bisa menentukan apakah sebuah foto jujur atau tidak. Dan rasanya sampai kapan pun alat itu tidak akan ada. Reputasilah yang membedakan antara yang jujur dan yang tidak. Kalau seorang fotografer pernah curang, lain kali kalau dia membuat foto hebat orang mungkin sudah tidak percaya lagi. Inilah, yang paling meresahkan LA Times. Mereka kuatir bahwa kepercayaan publik kepada LA Times akan turun drastis. Untuk itu Crawford sampai merasa perlu menegaskan komitmen LA Times pada kredibilitas. Tulisnya, "Apa yang dilakukan Brian Walski sama sekali tidak bisa ditolerir dan itu telah memainkan kepercayaan para pembaca kami. Integritas kami adalah segala-galanya. Kalau itu sudah hancur, kami bukanlah apa-apa lagi." Masalah kepercayaan publik inilah juga lalu meresahkan banyak fotografer lain. Betty Udesen, fotografer Seattle Times, mengatakan bahwa akibat ulah Walski, semua fotografer akan kena getahnya. Kata-kata fotografer New York Times, Vincent LaForet, walau agak sombong mungkin paling mewakili keresahan fotografer seluruh dunia, "Yang membedakan kami dengan fotografer-fotografer kelas dua adalah kredibilitas. Hanya itu yang kita punya. Jangan sampai ada yang merusaknya." Sejak Dulu Sebenarnya bukan cuma Walski yang pernah memanipulasi foto. Zaman fotografi surat kabar masi pakai film biasa, bahkan saat foto berwarna belum umum, manipulasi untuk tujuan tertentu pun sudah banyak dilakukan orang. Pada tahun 30-an, di Amerika Serikat, Senator Millard Tydings dari Maryland, gagal pada pemilihan berikutnya gara-gaa sebuah foto rekayasa muncul saat kampanyenya. Foto rekayasa dengan montase itu menggabungkan foto Tydings dan Earl Browder, salah satu pemimpin komunis di AS. Padahal, Tydings sama sekali tidak pernah bertemu dengan Browder. Namun efek foto itu sungguh luar biasa. 
Di Indonesia, rekayasa foto sebenarnya sangat sering terjadi. Rekayasa yang terjadi biasanya adalah membuang beberapa orang yang tidak diinginkan ada dalam sebuah foto. Walau hasilnya foto lebih bagus dan "rapi", bagaimana pun ini telah mengubah sebuah fakta. Dalam foto jurnalistik, untuk menghilangkan sesuatu "ganguan" dalam foto, satu-satunya cara yang diizinkan adalah dengan croping atau memotong. Croping bisa dilakukan saat memotret, yaitu dalam pemilihan lensa panjang, atau setelah selesai memotret dengan menggunting fotonya. Di luar cara ini, dilarang sama sekali. Walau begitu, dalam foto jurnalistik ada upaya-upaya tertentu yang masih diizinkan dalam menangani sebuah foto agar lebih bagus. upaya-upaya ini kalau diibaratkan dengan mengedit tulisan adalah membetulkan kalimat-kalimat yang buruk susunannya tanpa mengubah arti kalimat itu sendiri. Dalam foto jurnalistik, upaya ini antara lain memperbaiki kontras warna, membuat terang bagian foto yang terlalu gelap atau membuat bagian yang terlalu putih menjadi lebih gelap. Dalam fotografi digital, ketiga hal di atas mudah dilakukan dengan komputer. Dalam fotografi yang masih memakai film, upaya yang diizinkan dalam foto jurnalistik adalah dodging dan burning pada proses cetak foto. Selain itu, memperbaiki cetakan foto akibat negatif yang tergores masi termasuk upaya yang diizinkan. (Article by Arbain Rambay) |