|
 Goenadi Haryanto Dia adalah fotografer komersial dengan karier terlama di Indonesia saat ini. Pertama kali mendapat bayaran dari foto tahun 1964, sampai saat ini Goenadi Harjanto masih aktif memotret, mengajar, dan berburu foto untuk berbagai keperluan. Sudah 45 tahun dan masih berjalan!
Saya pertama kali mendapat bayaran yang signifikan saat foto saya dipakai majalah Djaja sebagai foto sampul pada tahun 1964. Waktu itu saya masih duduk di bangku SMA,” kata Goenadi dalam perbincangan dengan Kompas, pekan lalu. Selain itu, Anda tentu hafal betul pada lagu-lagu kasidah modern Bimbo yang sampai saat ini selalu diputar pada sekitar perayaan Lebaran. Sampai sekarang sampul kaset atau CD album kasidah modern Bimbo tidak berubah, yaitu foto yang menampilkan grup bersaudara asal Bandung itu di depan Gedung Sate. Foto buatan tahun 1974 ini dipotret Goenadi dengan kamera Asahi Pentax SP 1000. ”Kameranya masih ada pada saya,” kata Goenadi yang kelahiran Bandung, 19 Oktober 1946, ini. Goenadi mengenang, dia dibayar cukup besar untuk sampul kaset Bimbo waktu itu. ”Saya mendapat uang Rp 80.000. Waktu itu harga sepeda motor Honda CB 125 Rp 250.000. Kalau dikonversi ke era sekarang, bayaran saya sekitar Rp 6 juta,” kata pengajar fotografi di Universitas Pelita Harapan, Karawaci, ini. Selain itu, perhatikan foto Ahmad Albar di halaman ini. Tengoklah gairah musik rock tahun 1970-an di foto itu. Pergelaran grup God Bless pada tahun 1972 di Gelora Bung Karno, Jakarta, itu dipotret Goenadi dengan kamera Agfa Isolette dalam kapasitasnya sebagai fotografer majalah Aktuil waktu itu. Pada tahun 1970-an, siapakah remaja yang tidak kenal dengan majalah yang dibidani Remy Silado itu? Meminjam istilah sekarang, kurang gaul kalau tidak membaca Aktuil. ”Saya menjadi wartawan foto Aktuil dari tahun 1969 sampai 1975 sambil menjadi mahasiswa Jurusan Arsitektur ITB,” kata pria yang menjuarai lomba foto Dewan Mahasiswa ITB tiga tahun berturut-turut, 1970, 1971, dan 1972, ini. Ada cerita menarik pada karier Goenadi di majalah Aktuil. Suatu hari dia memotret seorang gadis cantik untuk sampul Aktuil. Rupanya sutradara Usmar Ismail tertarik dengan gadis yang bernama Lenny Marlina itu. Maka, pada acara pemilihan Miss Jabar di Hotel Savoy Homann, Usmar Ismail menemui Lenny. ”Tak lama kemudian, Lenny membintangi film Usmar yang berjudul Ananda,” kata Goenadi mengenang. Cinta fotografi Apa resep karier panjang Goenadi? Sebenarnya, pria ini sempat ”meninggalkan fotografi” sejak tahun 1975 sampai 2000. Waktu itu, seusai diwisuda sebagai sarjana arsitektur, Goenadi bekerja di dunia real estat yang gemerlap dan sedang naik daun waktu itu. Aneka mobil mewah pernah menjadi kendaraan resminya. Bahkan, ia pernah menjabat sebagai Vice President Asia Pacific Estate Federation pada 1991-1992. ”Tahun 2000 saya memutuskan pensiun dari dunia real estat dan memantapkan diri melanjutkan karier di dunia fotografi yang saya cintai,” katanya. Goenadi tidak bisa memberikan resep khusus. Namun, menurut dia, rasa cinta pada fotografi mendorongnya untuk terus bergelut di dunia ini. Pergantian dari dunia film ke digital juga tidak membuat pria ini gamang, seperti banyak fotografer seangkatan Goenadi. Ia terus mengejar ilmu-ilmu baru dalam dunia digital, bahkan saat ini ia adalah salah satu pengajar resmi perangkat lunak Aperture (perangkat lunak pengolah foto) di Indonesia. Aneka fotografi komersial masih dikerjakannya sampai sekarang, mulai dari foto perkawinan, iklan (salah satu perusahaan rokok besar pernah memakai karyanya), perumahan, sampai brosur. Foto promosi sebuah apartemen yang ada di halaman ini merupakan buatan tahun ini. Selain itu, Goenadi juga mendirikan Photopoint bersama beberapa rekannya, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang jasa fotografi dari pendidikan sampai pemberian jasa. ”Saya ingin dikenang sebagai fotografer. Saya akan terus bekerja sebagai fotografer sampai akhir hayat saya,” kata Goenadi. Arbain rambey Sumber: kfk.kompas.com |